Makalah Kesehatan Mental : Explosive Personality Disorder

MAKALAH KESEHATAN MENTAL

Explosive Personality Disorder

Gundar Logo.png

1.      Ayu Rachmawati

2.      Amelia Putri

3.      Ishmah Saraya (15514498)

Fakultas Psikologi

Universitas Gunadarma

Mata kuliah : Kesehatan Mental (Soft Skill)

Dosen : Nurul Huda

2016 – 2017

BAB I

         PENDAHULUAN      

 

1.3.   Latar Belakang

Menurut WHO (World Health Organization) sehat adalah suatu keadaan berupa kesejahteraan fisik, mental dan sosial secara penuh bukan semata – mata hanya terbebas dari penyakit dan keadaan lemah tertentu. Apabila fisik dan mental individu sehat maka sedikit kemungkinan terjadinya gangguan untuk melakukan aktifitas sehari – hari. Jika mental seseorang sehat, maka individu tersebut dapat terhindar dari gejala – gejala gangguan dan penyakit jiwa, sehingga orang bisa menyesuaikan diri dan dapat memanfaatkan segala potensi dan bakat yang dimiliki. Dengan mental yang sehat seseorang bisa berkembang secara maksimal.

           Manusia yang sehat adalah manusia yang mampu mengaktualisasikan dirinya dan mencapai kebahagiaan. Dan bila individu tidak sehat secara mental, individu tidak mampu mengaktualisasi dirinya dengan baik.

Explosive Personality Disorder atau yang lebih sering di kenal dengan Intermittent Explosive Disorder (IED) adalah gangguan dalam mengontrol impuls seperti adiktif alkohol, gangguan makan, berjudi, parafilia, kebiasaan menarik rambut, mencuri dan gangguan eksplosif intermiten.

Individu dengan gangguan kontrol impuls tidak dapat menahan dorongan – dorongan dalam dirinya untuk melakukan sesuatu sebagai pemenuhan keinginannya. Gangguan eksplosif intermiten adalah bentuk dari episode amarah atau agresifitas untuk melakukan penghancuran terhadap barang – barang atau pembunuhan. IED ini sangat dekat dengan beberapa istilah kekerasan domestik (kekerasan dalam rumah tangga) atau kekerasan di tempat bekerja.

Ketika individu dengan gangguan IED terprovokasi, ia akan menjadi eksplosif dan bereaksi secara berlebihan dalam beberapa menit bahkan dalam hitungan jam. Setelah ledakan amarah selesai, biasanya individu akan merasa bersalah, malu, minta maaf atau menyesal.

Individu yang mengalami gangguan kesehatan mental seperti ini, akan terganggu dalam melakukan aktifitas fisik maupun sosialnya dalam kehidupan sehari – hari. Oleh maka itu, tidak hanya kesehatan fisik, kesehatan mental juga sangat penting.

1.2.   Tujuan Penulisan

·         Menyelesaikan tugas mata kuliah kesehatan mental

·         Mengetahui tentang kesehatan mental

·         Mengetahui tentang salah satu jenis gangguan kepribadian Explosive Personality Disorder, atau yang lebih dikenal dengan Intermitten Explosive Disorder (IED).

1.3.   Metode Penulisan

Metode penulisan yang kelompok kami lakukan adalah studi pustaka yaitu mencari referensi yang relevan dari buku – buku dan sumber yang sesuai dengan dengan materi kami.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1.    Pengertian

Explosive Personality Disorder atau yang lebih sering di kenal dengan Intermittent Explosive Disorder (IED) adalah gangguan dalam mengontrol impuls seperti adiktif alkohol, gangguan makan, berjudi, parafilia, kebiasaan menarik rambut, mencuri dan gangguan eksplosif intermiten.

Gangguan eksplosif intermiten merupakan salah satu dari klasifikasi gangguan kontrol impuls lainnya (Impulse Control Disorders) bersama dalam kelompok itu adalah patoologis., trikotilomania dan gangguan pengendalian impuls yang tidak terdefinisi.

Individu dengan gangguan kontrol impuls tidak dapat menahan dorongan – dorongan dalam dirinya untuk melakukan sesuatu sebagai pemenuhan keinginannya. Gangguan eksplosif intermiten adalah bentuk dari episode amarah atau agresifitas untuk melakukan penghancuran terhadap barang – barang atau pembunuhan. IED ini sangat dekat dengan beberapa istilah kekerasan domestik (kekerasan dalam rumah tangga) atau kekerasan di tempat bekerja.

Ketika individu dengan gangguan IED terprovokasi, ia akan menjadi eksplosif dan bereaksi secara berlebihan dalam beberapa menit bahkan dalam hitungan jam. Setelah ledakan amarah selesai, biasanya individu akan merasa bersalah, malu, minta maaf atau menyesal.

Tenaga kesehatan profesional dalam mendiagnosa dasar gangguan eksplosif akan memperhatikan pola dan kebiasaan individu apakah dipengaruhi oleh kondisi bawah kesadaran atau pengaruh dari alkohol, kokain, atau ganja. Kondisi tersebut sering sekali sbagai penyebab timbulnya kekerasan.

Individu yang didiagnosa gangguan eksplosif intermiten juga memiliki kaitan dengan bebrapa gangguan lainnya, seperti : gangguan kecemasan, depresi, bipolar, ganggu obsessive compulsive. Akan tetapi diagnosa dikatakan mengalami gangguan IED, bila kekerasan yang muncul bukan disebabkan oleh gangguan mental lainnya atau kondisi mental lainnya. Berdasarkan DSM IV untuk definisi IED pada poin ketiga ini masih dalam perdebatan dan dianggap kontroversi bagi beberapa ahli dalam memahami kriteria tersebut.

2.2.    Kriteria DSM

Berdasarkan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder (DSM) kriteria gangguan IED adalah :

·         Kegagalaan dalam menahan dorongan agresi yang mengakibatkan aksi kekerasan serius atau penghancuran benda – benda

·         Ekspresi agrsifitas selama episode berlangsung disebabkan oleh sebab – sebab pemicu stress psikososial

·         Episode agresifitas bukan disebabkan oleh gangguan mental lainnya, seperti gangguan kepribadian antisosial, gangguan kepribadian borderline, gangguan psikotik, episode mania, conduct disorder atau ADHD. Dan bukan disebabkan langsung oleh efek dari kondisi psikologis (penyalahgunaan obat, medikasi) atau disebabkan penyakit medis secara umum (trauma kepala. Alzheimer)

2.3.    Simptom

Simptom utama IED adalah terjadinya erupsi kemarahan dan agresifitas yang berlangsung selama 10 – 20 menit yang mengakibatkan luka atau cedera atau penghancuran benda – benda. Episode ini diperkirakan sudah muncul sebelumnya selama satu minggu atau bulan tanpa adanya tanda – tanda gejala kekerasan.

Ketika episode agresi berlangsung individu akan mengalami gejala sebagai berikut :

·         Badan bergetar

·         Palpitasi

·         Ribut

·         Kepala seperti tertekan

·         Telinga memanas seperti mendengar bayangan suara

·         Dada terasa sesak

2.4.    Penyebab

Penyebab utama kemunculan IED tidak diketahui dengan pasti, para ahli berpendapat banyak faktor yang dapat memunculkan IED salah satunya adalah gangguan emosidan fisik pada masa perkembangan anak.

a.      Faktor Biologis

Teori faktor biologis menduga kemunculan IED disebabkan ketidakseimbangan neurotransmitter atau kimiawi otak, seperti hormon serotonin (testosteron) yang berhubungan dengan sistem limbik (emosi dan memori). Faktor lainnya adalah gangguan lobus frontal yang berfungsi untuk mengontrol impuls.

Gangguan fisik atau biologi pada masa perkembangan juga diduga sebagai penyebab IED yang mempengaruhi gangguan ringan neurologik tidak normal. Penggunaan alkohol pada masa remaja, trauma kepala, kelainan bentuk otak, infeksi kepala juga sebagai pemicu kemunculan IED.

b.      Faktor Psikologis

Bebrapa studi menunjukan gangguan impuls berhubungan erat dengan riwayat keluarga yang memiliki adiktif dan gangguan mood.

Hasil penelitian juga menunjukan bahwa individu dengan IED berkembang dari keluarga yang berhubungan erat dengan frustasi, kekerasan fisik dan emosi, orangtua yang menggunakan alkohol, perlakuan (pendidikan) sehari – hari. Individu IED tidak pernah diajarkan untuk mengontrol impuls dan emosinya secara benar.

Individu dengan IED memiliki self esteem yang rendah. Mereka memiliki cara tersendiri kompensasi terhadap emosinya, sehingga mereka mudah sekali eksplosif dalam mengahadapi situasi stress atau frustasibaik disadari ataupun tidak disadari.

2.5.    Test dan Diagnosis

Beberapa kondisi simtom yang harus dipisahkan (klinis banding) untuk diagnosa gangguan eksplosif intermiten ini adalah delirium, demensi, oppotional defient disorder (ODD), gangguan kepribadian antisosial, skizofrenia, serangan panik atau pengasingan diri dan keracunan (intoksikasi). Electroencephalograms (EEG) dapat digunakan untuk memeriksa tanda – tanda neurologis dan keseimbangan serotonin dan testosteron).

2.6.    Treatment

a.      Medikasi

Obat – obatan yang digunakan dalam treatment IED :

·         Anticonvulsants, seperti carbamzepine (Tegretol), phenytoin (Dilantin), gabapentin (neurontin) dan lamotrigine (lamictal)

·         Anti cemas, golongan benzodiazepine, seperti diazepam (valium), lorezepam (Ativan)  dan alprazolam (Xanax)

·         Pengatur mood, seperti lithium dan prophanol (Inderal)

·         Anti depressants, seperti fluoxetine (Prozac) dan paroxetine (Paxil)

b.      Psikoterapi

Terapi yang digunakan dalam treatment IED adalah :

·         Terapi Psikodinamika, terapi ini dianggap lebih baik dalam mengontrol perilaku dan pikiran – pikiran yang muncul dalm diri individu dalm mengenal perasaan – perasaannya, motivasi, termasuk dalam pikiran sadar dan bawah sadar.

·         Cognitive Behavioral Theraphy (CBT) bertujuan untuk membantu individu lebih fokus dalam pikiran kesadaran dan pola – pola perilaku yang lebih positif dalam mengendalikan dorongan – dorongan impuls untuk mengindari terjadinya ledakan amarah

·         Group terapi, terapi keluarga dan support group (seperti Alcohol Annoymous)  kadang juga dibutuhkan untuk menolong individu agar tidak terjebak dalm penyalahgunaan alkohol.

2.7.    Contoh Kasus

     Seorang anak laki-laki berusia 17 tahun ditunjukkan dengan kekhawatiran tentang mimpi buruk. Dia menyatakan bahwa dia mempunyai kesulian untuk tertidur, dan akan terbangun dengan mimpi buruk 30 sampai 40 kali per malam. Dalam pertanyaan yang lebih lanjut, dia mengungkapkan bahwa dia merasa dirinya menjadi semakin pemarah selama 6 bulan terakhir, terutama selama 5 minggu terakhir. Dia menggambarkan perasaan marahnya timbul tiba-tiba dan tanpa alasan yang jelas. Hal ini juga disertai dengan semakin tingginya impulsif, kumat dan pikiran konstan tentang kekerasan membunuh siapa saja yang dia lihat, didominasi menggunakan senjata seperti pisau, pedang atau pistol. Pikiran yang mengganggu bercampur dengan konsentrasinya dan membuatnya sulit baginya untuk pergi ke sekolah atau untuk meninggalkan rumahnya. Dia menyatakan bahwa dia sangat tidak terorganisir dengan baik, bukan seorang penghimpun, dan tidak mempunyai adat. Dia tidak memiliki dorongan. Kesehatannya, keadaan dalamnya, keluarganya dan hukum sejarahnya biasa-biasa saja. Dia membantah penggunaan zat atau penyalahgunaan. Dalam dua urusan, ketika dia sedang sendiri di rumahnya, dia meluapkan kemarahannya dengan menghancurkan dan merusak furniture. Dia tidak pernah berada dalam pertengkaran fisik, juga tidak pernah menyakiti salah seorang atau binatang. Resiko bunuh dirinya rendah.

     Pada saat pengakuan, dia terlihat sesuai dengan usianya dan berpakaian santai dengan jeans dan t-shirt. Suasana hatinya marah, sesuai dengan yang mempengaruhinya. Pikirannya terfokus dalam keasyikannya dengan membunuh orang. Meskipun pikirannya menyedihkan, dia mempunyai insight yang luar biasa dalam kondisinya.

     Dia mulai pada escitalopram 10 mg dan olanzapine 2.5 mg sehari. Kemudian, tidurnya ditingkatkan. Namun, pikiran menyedihkan bertahan dan pengaturan marah teratur. Sementara ia mencatat ada perubahan dalam frekuensi dan intensitas pikiran menyedihkannya, dia menyatakan bahwa ia merasa sedikit lega dalam usaha mengatasi situasinya.

     Ketika anak laki-laki ini ditunjukkan ke perawatan kami, berbagai diagnosis yang berbeda-beda ditinjau termasuk: obsessive compulsive disorder, intermittent explosive disorder, depresi atau sebuah reaksi penyesuaian. Kambuh-kambuhannya dan pikiran kekerasan impulsif paling sugestif dari intermittent explosive disorder. Sebuah EEG diperintahkan, dan mengungkapkan fokus epilepsi. Dia mulai menggunakan carbamazepine, sebuah antikonvulsan, dan kemudian hasilnya mengurangi frekuensi dan intensitas dari pikiran kekerasan.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s